Rabu, 06 April 2011

Prabu Linggabuana

Linggabuana merupakan anak dari Prabu Rangamulya Luhur Prabawa, Prabu Rangamulya mempunyai dua orang anak yaitu Linggabuana dan Bunisora. Sebelum menjadi Raja Linggabuana pernah menjadi seorang adipati selama 7 tahun, dibawah pemerintahan kakeknya, menjadi Yuwaraja (Putra mahkota) pada masa pemerintahan ayahnya selama 10 tahun. (Yoseph Iskandar; 2005, 195).

Sang Linggabuana dinobatkan menjadi Raja Sunda pada tanggal 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 Saka atau kira-kira tanggal 22 Februari 1350 Masehi, dengan gelar Prabu Maharaja Linggabuana. Prabu Linggabuana mempunyai seorang permaisuri yang bernama Dewi Lara Lingsing (Putrinya Prabu Arya Kulon), dari penikahannya ini Prabu Lingggabuana memperoleh beberapa orang anak yaitu:

Citraresmi, Citraresi oleh kakeknya dipanggil dengan nama Dyah Pitaloka
Putra yang kedua meninggal dunia pada usia 1 tahun
Putra yang ketiga juga meninggal pada usia 1 tahun
Putra yang keempat (bungsu) diberi nama Niskala Wastu Kencana lahir pada tahun 1348 Masehi (Kleak akan menggantikan ayahnya menjadi Raja Sunda).

Linggabuana dalam Peristiwa Bubat

Dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan Sunda, Linggabuana dibantu oleh adeknya Sang Bunisora yang lebih terkenal dengan sebutan Mangkubumi Suradipati. Pada masa pemerintahan Lingabuana di Kawali, datang seorang utusan dari Kerajaan Majapahit dengan tujuan untuk melamar putri Sunda (Dyah Pitaloka/ Citraresmi). Keterangan mengenai pelamaran ini tertulis dalam kitab Pararaton, sebagai berikut:

Bre prabhu ayun ing putrid ring Sunda. Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda.

Artinya:
“Sri Prabu (Hayam Wuruk) ingin memperistri putri dari Sunda. Patih madu diutus mengundang orang Sunda.
Ada bebrapa alas an penafsiran kenapa raja Prabu Hanyam Wuruk menginginkan istri Putri Sunda:

Mengingat kekerabatan Sunda-Majapahit sudah terjalin dengan baik sejak lama, karena pendiri Majaphit, yaitu Wijaya (Kretarajasa Jayawardana) adalah cucunya Prabu Guru Darmasiksa (Maharaja Sunda) Suatu yang wajar apabila Prabu Hayam Wuruk bermaksud mempererat kembali kekerabatan Sunda-Majapahit, seperti yang terjadi pada leluhur majapahit.
Karena kekerabatan Majapahit-Sunda begitu dekat, maka kabar tentang putrid Citraresmi sang sangat cantik, sehingga di juluki Wajra (Permata), telah menarik hati Prabu Hayam Wuruk yang masih singgel.

Lamaran Raja Majapahit ini tidak begitu saja diterima oleh Prabu Linggabuana, Linggabuana akhirnya berunding dengan kerabat keraton, termasuk dengan Bunisora. Setelah menimbang secara matang-matang akhirnya Linggabuana menerima lamaran Prabu Hayam Wuruk, yang disampaikan oleh patih Madu sebagai utusan kerajaan Majapahit. Prabu Linggabuana, selain menerima lamaran Hayam Wuruk, dia juga menerima permintaan untuk mengadakan upacara perkawinan di Kerajaan Majaphit.

Ada beberapa alasan mengapa Prabu Maharaja Linggabuana menerima lamaran dan usulan upacara perkawinan di adakan di Kerajaan Majaphit;

Mengingat kekerabatan Sunda- Majapahit.
Merupakan bentuk penghormatan kepada Majapahit, mengingat Majapahit sedang dalam puncak kejayaanya.

Sebagai seorang Raja Linggabuana tentunya akan memiliki kebanggan tersendiri apabila Putrinya diperistri oleh raja Majapahit. Kebanggaan Linggabuana ini tidak mengesampingkan dari kemerdekaan atau kedaulatan kerajaan Sunda. Berikut adalah petikan dari Pararaton yang menyatakan kedatangan Raja Sunda ke Majapahit.

Teka ratu Sunda maring Majapahit, sang ratu Maharaja tan pangaturaken putrid. Wong Sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. Sira Patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.

Artinya:
“Lalu Raja Sunda datang di Majapahit. Sang Ratu Maharaja tidak bersedia mempersembahkan putri. Orang Sunda harus meniadakan selamatan (jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang patih Majapahit (Gajah Mada) tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia menganggap rajaputri (Citraresmi) sebagai upeti.”

Sikap yang diperlihatkan oleh Gajah Mada seperti ini, memang kalau dipandang dari segi politik dan pribadi dapat di maklumi. Karena pada zaman itu antara pengaruh dan kekuasaan, demi kejayaan pribadi dan Negara merupakan hal yang mutlak harus diperjuangkan. Pertempuran atau perang merupakan salah satu jalan yang digunakan untuk memperoleh kekuasaan. Kerajaan Majapahit dibawah Pemerintahan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada pada masa itu memang sedang-sedang gencar-gencarnya meluaskan kekuasaan di nusantara. Maka salah satu jalan yang dilakukan Majapahit dibawah Gajah Mada adalah dengan memaksa Sunda untuk takluk, hingga terjadinya peristiwa Bubat.

Menurut Pararaton, pada tahun 1357 Masehi peristiwa yang dikenal sebagai Pasunda-Bubat, suatu pertikaian politik antara kerajaan Majapahit dengan Sunda. Peristiwa ini juga terkenal dalam cerita Parahyangan, yang menyebutkan:

Manak deui prebu maharaja. Lawasniya ratu tujuh tahun. Kena kabawa ku kalawiyasa, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran tohan. Mu(n)dut agung dipipanumbasna. Urang reya sa(ng)kan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda pan prangprang di Majapahit.

Artinya:
“Punya anak, Prabu Maharaja, lamanya menjadi raja tujuh tahun, lantaran terkena bencana, terbawa celaka oleh anaknya yang bernama Tohaan, meminta terlalu besar saratnya. Bermula banyak orang yang pergi ke Jawa, karena tidak bersuami di Sunda. Terjadilah perang di Majapahit”. (Marwati Djonened Poesponegoro; 2008, 391)

Dari Cerita Parahyangan itu jelas bahwa yang memerintah ketika itu adalah Prabu Maharaja, dank arena ia dikatakan berkuasa selama tujuh tahun, dapat diperkirakan bahwa ia mulai menjadi raja pada tahun 1350 M, pada tahun yang sama dengan naik tahtanya hayam Wuruk di Majapahit. Dengan gugurnya sang Prabu Maharaja di Bubat, bukan berarti Suda tidak mempunyai raj lagi. Cerita Parahyangan memberitakan bahwa sang raja masih memiliki seorang anak yang terkenal, bernama Niskala Wastu Kencana. Tokoh inilah yang juga dikenal pada prasasti Kawali, Kabantenan, dan Batutulis, walaupun dengan nama yang berbeda.

Peristiwa Bubat ini merupakan salah satu bentuk realisasi dari Sumpah Amukti Palapa, Patih Gajah Mada. Seperti yang dikisahkan dalam Pararaton tersirat secara pribadi patih Gajah Mada yang “tidak menghendaki pernikahan resmi” dan menganggap Citraresmi “sebagai upeti”, sebenarnya merupakan alasan pribadi dikemas dalam diplomasi kenegaraan.

Untuk melengkapi keterangan di atas, berikut adalah berita lainya yang menceritakan peritiwa Bubat dalam uraian Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa II sarga 2;

//satuluynya cina-
Ritan ing trayodaci
Krsnapaksabadrama-
Ca/sahasra rwangatus pi-
Tung puluh punjul sanga/i-
Kang cakakala // sang pra-
Bhu maharaja Sunda pe-
Jah ta sira haneng
Bubat I wilwatikta-
Nagara // irikang kala
Sang prabhu maharaja ka-
Hyun ngawarangaken ana-
K ira ya ta sang retna ci-
Traresmi / athawa dyah pi-
Taloka lawan bhre
Prabhu wilwatikta cri
Rajasanagara ngaran ira /
Nihan ta mulatnya //

Artinya:
“Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Saka, Sang Prabhu Maharaja gugur di Bubat di Negara Majapahit. Saat itu sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Ratna Citraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Majapahit yang bernama Sri Rajasanagara. Beginilah asal-mulanya”.

Detik-detik gugurnya Linggabuana

Rombongan kerajaan Sunda di bawah pimpinan Sang Prabu Linggabuana akhirnya tiba di Majapahit, saat sampai di sanana Dyah Pitaloka harus diserahkan sebagai istri-persebahan kepada Raja Majapahit Hayam Wuruk. Semua ini sebenarnya sangat bertentangan dengan janji sebelumnya dari Hayam Wuruk, maka untuk itu Raja Sunda tidak bersedia menyerahkan putrinya sebagai persebahan. Janji yang sebelumnya menghendaki Putri sunda sebagai permaisuri Raja Hayam Wuruk, akhirnya sirna setelah mendengar bahwa putrid sunda harus diserahkan sebagai upeti. Kehendak putir Sunda Dyah Pitaloka dijadikan upeti merupakan salah satu kehendak sepihak dari Gajah Mada tanpa sepengetahun dari Hayam Wuruk.

Mendengar permintaan seperti itu, akhirnya Sang Maharaja Linggabuana duduk termenung. Hatinya cemas dan ragu-ragu, dalam hatinya berpikir tidak mungkin ksatria Sunda mampu memenangkan pertempuran melawan pasukan Majapahit yang sedemikian besarnya.

Pada saat yang genting dan suasana semakin memanas, lalu ksatria Sunda berkumpul mendekati Sang Prabu Linggabuana. Pada saat itu juga mereka bermusyawarah dengan Sang Prabu Linggabuana dan akhirnya disepakati bahwa mereka semua sepakat untuk terjun dimedan tempur menyongsong pasukan Majapahit. Prabu Maharaja Linggabuana bersama pengikutnya tidak sudi menyerahkan putrinya sebagai persebahan.

Pada saat itu juga akhirnya Sang Prabu Linggabuana berseru kepada semua pengikutnya yang ada di Majapahit. Berikut adalah kata-katanya “walaupun darah akan mengalir bagaikan sungai di palagan Bubat ini, namun, kehormatanku dan semua ksatria Sunda, tidak akan membiarkan penghianatan terhadap Negara dan rakyatku. Karena itu, janganlah kalian bimbang!”

Kata-kata yang dikemukakan oleh Sang Prabu Linggabuana membuat hati para pengikut Sunda semakin besar. Pada saat tiba pasukan Majapahit, akhirnya pengawal sunda yang hanya beberapa puluh orang menyongsong dengan gagah berani. Namun karena jumlah pasukan yang jauh berbeda maka pada saat itu juga pasukan Sunda gugur dalam pertempuran termasuk Dyah Pitaloka yang melakukan mati-bela.

Pasukan Sunda yang gugur

Adapun pasukan Sunda yang gugur bersama sang Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka adalah Rakean Tumenggung Larang Ageng, Rakean Mantri Sohan, Yuwamantri (mentri muda) Gempong Lontong, Sang Panji Melong Sakti, Ki Penghulu Sura, rakean Mantri Saya, Rakean Rangga Kaweni, Sang Mantri usus (bayangkara sang prabu), Rakean Senapatiyuda Sutrajali, Rakean Juru Siring, Ki Jagat Saya patih mandala Kidul, Sang Matri Patih Wirayuda, Rakean Nakoda Braja (panglima pasukan laut Sunda), Ki Nakoda Bule (pemimpin jurumudi kapal perang kerajan), Ki Juruwastra, Ki Mantri Sabrang Keling, dan Ki Mantri Sumping Keling, bersama semua pengiringnya.

Kemaksuran nama Linggabuana setelah meninggal

Gugurnya Parbu Linggabuana dalam perang bubat meninggalkan kenangan kenangan pahit dalam sejarah Sunda, demi menghormati nama besarnya yang sudah membela harga diri dan kehormatan kerajaan dengan tetesan darah terakhirnya maka nama belaiu akhirnya diabadikan dalam sebuah panggilan Siliwangi. Kata Siliwangi sebelumnya dikenal dengan istilah gelar panggilan raja Prabu Wangi kepada Niskala Wastu Kencana yang merupakan anak dari Linggabuana, pemberian gelar ini merupakan bentuk penghormatan kepada ayahnya yang sudah mewangikan nama Sunda dengan membela harga diri dalam Bubat.

Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".
Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.”

Dengan demikian nama Siliwangi merupakan kata yang berasal dari Prabu Wangi, yaitu panggilan Niskala Wastu Kencana sebagai penghormatan kepada ayahnya Linggabuana, nama Prabu Wangi akhirnya dipopulerkan dengan kata Siliwangi dalam beberapa pantun Sunda dan akhirnya dijadikan sebagai panggilan kehormatan untuk Raja-raja Pajajaran.

Kepustakaan
Iskandar, Yoseph. 2005. Sejarah Jawa Barat. Bandung: CV Geger Sunten
Sukardja, Djadja. 2005. Situs Kawali.
http://pramekers.wordpress.com/2009/03/21/eyang-prabu-siliwangi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Baduga_Maharaja

Tidak ada komentar: